Keluarga Korban Keracunan MBG di Sebulu Berharap Kompensasi, SPPG Belum Beri Kepastian

img

Gedung SPPG Sebulu Ulu. (Kriz)

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Di tengah biaya pengobatan yang terus bertambah, keluarga korban dugaan keracunan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai berharap ada kompensasi dari penyelenggara.

Harapan itu muncul setelah mereka harus mengeluarkan biaya transportasi, memenuhi kebutuhan selama mendampingi anak menjalani perawatan, hingga kehilangan penghasilan karena tidak bisa bekerja.

Di sisi lain, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sebulu Ulu menyatakan belum dapat memberikan kepastian terkait kemungkinan pemberian kompensasi.

Salah satu orang tua korban, Nur Helva, mengatakan perhatian keluarganya saat ini sepenuhnya tertuju pada proses pemulihan sang anak.

Namun, di balik itu terdapat beban ekonomi yang harus mereka tanggung sejak anak menjalani pemeriksaan dan perawatan.

Sebagai pekerja harian lepas, ia dan keluarganya harus meninggalkan pekerjaan untuk mendampingi anak sehingga tidak memperoleh penghasilan, sementara pengeluaran terus bertambah setiap hari.

Selain biaya transportasi menuju fasilitas kesehatan, keluarga juga harus memenuhi berbagai kebutuhan lain selama proses pendampingan.

Kondisi itulah yang membuatnya berharap ada perhatian dari penyelenggara program untuk membantu meringankan beban yang ditanggung keluarga korban.

"Kalau ada kemurahan hati dari pihak penyelenggara untuk membantu biaya yang kami keluarkan tentu kami sangat bersyukur. Yang kami pikirkan sekarang bagaimana anak bisa cepat pulih. Sementara kebutuhan selama mendampingi dia juga terus berjalan," ujarnya saat ditemui di Puskesmas Sebulu I tempat anaknya di rawat pada Selasa (4/8/2026).

Nur Helva mengungkapkan, anaknya yang berusia 9 tahun 10 bulan dan kini duduk di bangku kelas IV SDN 003 Sebulu sebelumnya tidak pernah memiliki riwayat penyakit serius.

Selama ini, sang anak hanya sesekali mengalami flu atau demam sehingga kejadian yang mengharuskannya menjalani perawatan inap menjadi pengalaman pertama bagi keluarganya.

"Anak saya belum pernah menderita penyakit berat. Paling hanya flu atau demam biasa. Kalau sampai harus dirawat inap seperti ini, baru pertama kali," tuturnya.

Harapan keluarga korban tersebut belum dapat dijawab secara pasti oleh pihak penyelenggara.

Kepala SPPG Sebulu Ulu Yayasan Wadah Lumbung Inklusi, Rahmatullah Ananda Putra, mengatakan dirinya tidak memiliki kewenangan untuk menyampaikan ada atau tidaknya kompensasi bagi keluarga korban karena hal itu menjadi kewenangan juru bicara yang telah ditunjuk.

Putra menjelaskan, saat ini seluruh perhatian SPPG masih difokuskan pada penanganan para penerima manfaat yang mengalami keluhan kesehatan.

"Untuk persoalan kompensasi saya belum bisa memberikan keterangan. Saat ini kami lebih fokus memastikan penanganan berjalan dengan baik dan terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, puskesmas, Polsek, Koramil, serta pihak terkait lainnya," jelasnya.

Ketika kembali ditanya mengenai kemungkinan adanya kompensasi, Putra menegaskan belum dapat memberikan kepastian karena keputusan tersebut berada di luar kewenangannya sebagai Kepala SPPG.

"Saya belum bisa memastikan karena kewenangan saya terbatas sebagai Kepala SPPG. Nanti hal itu akan disampaikan oleh pihak yang memang berwenang memberikan penjelasan," tegasnya.

Meski belum dapat memastikan mengenai kompensasi, Putra mengatakan komunikasi dengan keluarga penerima manfaat tetap berjalan selama proses penanganan berlangsung.

Hingga kini, menurutnya, belum ada orang tua korban yang datang langsung ke SPPG untuk menyampaikan protes.

"Alhamdulillah tidak ada. Kami terus berkomunikasi dengan orang tua penerima manfaat. Kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan tentu itu bukan harapan siapa pun yang terpenting sekarang anak-anak bisa segera mendapatkan pemeriksaan dan penanganan dengan baik," pungkasnya. (kriz)